Monday, January 7, 2008

Teori Maslow dan Sistem Negara

Baru saja gw sempat berpikir untuk beberapa saat, bahwa mungkin ada hubungan yang erat antara teori Maslow yang berlaku secara global dengan sistem negara-negara yang ada di dunia ini. Mungkin di antara kalian masih belum tahu apa itu teori Maslow secara jelas dan pasti. Kalau sudah tahu, ya silakan baca-baca saja. Tapi kalau belum tahu, ya baiklah akan gw jelaskan dulu secara singkat dengan bahasa gw.

Teori Maslow adalah teori mengenai kebutuhan manusia yang digambarkan dalam bentuk piramida kebutuhan. Di dalam teori ini, Maslow mengungkapkan ada 5 buah kebutuhan manusia yang masing-masing menempatkan posisinya di dalam piramida kebutuhan. Tentu ada beberapa kebutuhan yang dianggap lebih penting dan lebih darurat dibandingkan kebutuhan lainnya. Urutan kelima kebutuhan ini dari yang paling penting adalah,
1. Fisiologis (misalnya bernafas, makan, minum, melakukan hubungan seks, tidur)
2. Sekuritas (misalnya kepastian kesehatan, kepastian pekerjaan, kepastian materi)
3. Sosial (misalnya pertemanan, keluarga, hubungan dengan lawan jenis)
4. Penghargaan diri (misalnya citra diri, percaya diri, dihargai orang lain)
5. Aktualisasi diri (misalnya moralitas, kreativitas, spontanitas, kecerdasan)

Jadi artinya, kalau kebutuhan fisiologis belum tercapai, maka tidak mungkin seseorang akan mampu berusaha mencapai kebutuhan sosial atau aktualisasi diri. Demikian juga sebaliknya, kalau seseorang sudah mampu mencapai kebutuhan penghargaan diri, maka sudah pasti dia juga sudah memiliki kebutuhan sekuritas. Teori Maslow ini berlaku untuk setiap kalangan, bahkan untuk kalangan biksu yang dikenal sebagai makhluk-makhluk yang tidak terikat urusan duniawi. Para biksu mampu mencapai kebutuhan aktualisasi diri karena mereka sudah merasa CUKUP akan kebutuhan fisiologis, sekuritas, sosial, maupun penghargaan diri. Jadi, teori ini berlaku umum.

Lalu apa hubungannya dengan sistem negara? Nah, di dunia ini ada beberapa sistem yang mengatur bagaimana seharusnya negara berjalan dan unsur apa yang harus mendominasi dalam proses kenegaraan. Sistem demokrasi menitikberatkan pada pemerintahan yang dipilih dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat sendiri. Artinya, rakyat memiliki tanggung jawab besar dalam memutuskan arah negara mereka sendiri. Sistem otoriter menitikberatkan pada pemerintahan yang terpusat secara sentralistis. Artinya, pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam memutuskan arah negara mereka sendiri. Dengan demikian, hasil yang akan mampu dicapai oleh kedua sistem ini juga akan berbeda sesuai dengan ciri khas masing-masing.

Nah, bila saja rakyat sebuah negara saja masih belum mampu mencapai kebutuhan fisiologis dan sekuritas, tentunya mereka juga tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk mengambil keputusan yang bersifat aktualisasi diri. Sedangkan kita sama-sama tahu bahwa demokrasi membutuhkan partisipasi rakyat yang bermoral, kreatif, spontan, cerdas, dan mampu bertanggung jawab. Rakyat yang seperti itu hanya akan muncul setelah kebutuhan fisiologis, sekuritas, sosial, dan penghargaan dirinya sudah terpenuhi. Bahkan kebutuhan fisiologis dan sekuritas rakyat yang ada di negara-negara berkembang seperti Indonesia bahkan masih belum terpenuhi, sehingga memang sistem demokrasi tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia. Demokrasi hanya akan mampu diterapkan di negara-negara dengan penduduk yang sudah sejahtera dan aman.

Kita ambil contoh Rusia yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin. Walaupun kepemimpinan sang presiden sifatnya otoriter, namun dia berhasil meningkatkan kemakmuran rakyat Rusia, selain juga mempertahankan stabilitas negara Slavic itu. Bagi rakyat Rusia sendiri, lebih penting berada dalam stabilitas dan kemakmuran dibandingkan harus memutuskan siapa pemimpin mereka untuk periode berikutnya. Selain Rusia, China juga kurang lebih menganut hal yang sama. Bagi rakyat China, lebih penting berada dalam stabilitas dan kemakmuran dibandingkan harus ikut berpolitik.

Di ujung kata dari tulisan ini, gw hanya ingin memperingatkan kita semua bahwa berhati-hatilah bermain dengan demokrasi. Jelaslah kalau demokrasi bukanlah Tuhan yang menjadi satu-satunya solusi atas permasalahan di negara kita dan di seluruh dunia. Lebih jauh lagi, bukankah rakyat kita lebih mengingingkan kebutuhan fisiologis dan sekuritas daripada kebutuhan akan aktualisasi diri? Well, gw tidak memusuhi demokrasi. Hanya saja, demokrasi baru bisa berjalan dengan lancar bila kebutuhan fisiologis, sekuritas, sosial, dan penghargaan diri rakyat terpenuhi.

It's all about process.

1 comment:

lies_around said...

dalam demokrasi rakyat selalu dimanfaatkan, apalagi di negara yang rakyatnya mayoritas miskin dan tidak terdidik.