Saturday, January 12, 2008

Detik-Detik Kematian Sang Raja

pedangnya tajam dan mematikan,
semua orang takut padanya,
pasukannya kuat dan profesional,
semua orang tunduk padanya,
kekayaannya berlimpah dan bertebaran,
semua orang mengenalnya,

negaranya besar dan hebat,
sungguh disegani negara-negara lain,
bangsanya kuat dan tangguh,
sungguh kekuatan baru di dunia,
tanahnya subur makmur,
sungguh gemah ripah loh jinawi

semua berkat sang raja,
sang pemimpin yang mengatur,
sang penguasa yang menguasai,

semua berkat sang tiran,
sang tiran yang bertanggung jawab atas kematian jutaan orang,
sang tiran yang mengambil alih kekuasaan dengan cara kotor,

hutang nyawa dibalas nyawa,
hutang harta dibalas harta,
hutang derita dibalas derita,
hutang kekuasaan dibalas kekuasaan,

darah dan air mata mewarnai perannya dalam sejarah,
besi dan tameng mewarnai kekuatannya selama ini,
kartu-kartu primordial mewarnai permainan kekuasaannya,

pengasingan,
penderitaan,
pembantaian,
kerusakan,
korupsi,

itu masa lalu...

kini,
sebuah dinasti diambang kehancuran,
para pangeran keluar-masuk penjara,
para putri dicemooh rakyat jelata,
kaum loyalis menginginkan warisan,

kini,
saatnya para pemuda revolusi menghadapi sang dinasti,
saatnya menumpahkan kekayaan sang dinasti kepada rakyat,
untuk keadilan dan kemanusiaan,

kini,
sang raja tergolek lemah di tempat tidurnya,
menginginkan pil keabadian yang sulit ditemukan,
bahkan hingga detik-detik terakhir nafasnya,
didorong ketakutan pada hukuman tuhan di akhirat,

"aku adalah sang raja...dan aku tetaplah raja sampai kapanpun jua"
demikian titah terakhirnya yang takkan berlanjut hingga di akhirat nanti,
tak bisa menerima kematian sebagai kesunyataan,

kini,
seluruh kroninya berada di dekatnya,
berdoa,
menangis,
meminta warisan,
menghindari hukum,
hukum yang ditegakkannya sendiri demi menopang kekuasaan,
ya kekuasaan selama 32 tahun lamanya,

ironis...

saatnya dimulai...untuk keadilan!

No comments: